
Museum Goedang Ransoem didirikan pada tahun 1918. Dulunya Museum ini dibangun untuk dijadikanDapur Umum, tempat memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi Pekerja Rantai(sebutan bagi tahanan Belanda yg di jadikan pekerja paksa). Pada saat Dapur Umum ini dibangun, Pemerintah Kolonial sudah memanfaatkan kemajuan teknologi. Untuk memasak dengan jumlah banyak telah digunakan teknologi uap panas. Selain dapur untuk memasak, terdapat juga beberapa bangunan yang memiliki fungsi lain. Bangunan-bangunan yang ada di tempat tersebut terdiri dari:
- Bangunan Utama (Dapur Umum)
- Gudang persediaan bahan mentah dan padi
- Steam Generator (Tungku Pembakaran) buatan Jerman tahun 1894
- Menara cerobong asap
- Pabrik es batangan
- Klinik kesehatan
- Kantor Koperasi
- Heuler (Penggilingan padi)
- Rumah kepala ransum
- Rumah karyawan
- Pos penjaga
- Rumah Jagal hewan
- Rumah Hunian kepala rumah potong hewan
Sejak tahun 1945 Dapur Umum tidak lagi efektif sebagai penyedia kebutuhan makanan bagi pegawai tambang. Pada tahun tersebut tempat itu diambil alih oleh tentara pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Dapur Umum digunakan untuk memasak makanan yang diperuntukkan bagi Tentara Kedaulatan Republik Indonesia (TKRI). Kemudian pada tahun 1948 Dapur Umum kembali beralih fungsi. Seiring kedatangan kembali Belanda ke Indonesia, Dapur Umum dipergunakan untuk memasak makanan bagi tentara Belanda. Aktifitas memasak yang terjadi di Dapur Umum mulai berhenti sejak tahun 1950 hingga sekarang. Berbagai perubahan fungsi telah dilalui di Dapur Umum seperti :
- 1950 s/d 1960 dimanfaatkan sebagai penyelenggaraan Administari PT. BO
- 1960 s/d 1970 dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan formal setingkat SMP.
- 1970 s/d 2005 difungsikan sebagai hunian karyawan tambang.
Foto1: Tampak depan Museum Goedang Ransoem atau Dapur Umum untuk ribuan pekerja yang dikenal juga sebagai 'orang rantai'.

Memasuki pintu Museum, pengunjung dihadapkan dengan kata-kata yang penuh makna ini, terpampang cukup besar
Foto2: Kota Sawah Lunto punya Grand Strategy hingga Tahun 2020 untuk menjadi Kota Wisata Tambang. Banner ini terpampang disebelah kiri setelah pintu masuk Museum

Foto3: Periuk Nasi Raksasa yang digunakan untuk memasak nasi dalam jumlah besar buat para pekerja tambang batu bara

Foto4: Beberapa Kuali Raksasa yang dipajang ditengah ruangan Museum

Foto5: Langsang, salah satu alat untuk memasak Nasi

Foto6: Pedati, luar biasa...!! jujur saya sendirri bellum pernah melihat pedati,.. hahahaaha

Foto7: Beberapa contoh peralatan yang digunakan oleh pekerja tambang

Foto8: Kompresor yang dipajang didinding sebelah kiri

Foto9: Dibawah ruang masak terdapat ruang bawah tanah dengan pipa cerobong untuk mengalirkan uap panas ke 20 buah tungku.

Foto10: Tungku Pembakaran yang tingginya lebih dari 4 meter berada dibelakang Gudang Ransum

Foto11: Tampak dalam Gudang Ransum

Sumber : http://awalblogsaya.blogspot.com/2011/03/gudang-ransum-saksi-sejarah-orang.html



















